Beranda Daerah Dari Balik Tembok Lapas, 1.000 Ayam Disiapkan untuk Ketahanan Pangan Pemasyarakatan Sultra

Dari Balik Tembok Lapas, 1.000 Ayam Disiapkan untuk Ketahanan Pangan Pemasyarakatan Sultra

0
17

SAKSARAPOST.COM, KENDARI — Di balik tembok lembaga pemasyarakatan, aktivitas pembinaan tidak hanya berbicara tentang keterampilan, tetapi mulai diarahkan pada kegiatan produktif yang memiliki manfaat nyata. Salah satunya melalui pengembangan peternakan ayam pedaging berkapasitas 1.000 ekor di lahan belakang LPKA Kendari, Sulawesi Tenggara.

Program tersebut menjadi bagian dari pengembangan pembinaan kemandirian sekaligus ketahanan pangan yang terus didorong Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Sulawesi Tenggara.

Peternakan tersebut saat ini terus menunjukkan progres, baik dari sisi pemeliharaan ternak maupun pengembangan fasilitas kandang. Ratusan ayam pedaging dipelihara dengan sistem pemberian pakan dan minum yang telah disiapkan untuk menunjang pertumbuhan ternak.

Menariknya, hasil peternakan ini tidak hanya diarahkan untuk kepentingan usaha. Ayam pedaging yang dikembangkan nantinya diproyeksikan untuk mendukung kebutuhan bahan makanan bagi rumah tahanan negara (Rutan) dan lembaga pemasyarakatan (Lapas) di wilayah Ditjenpas Sulawesi Tenggara.

Dengan konsep tersebut, kegiatan peternakan tidak berhenti sebagai program pembinaan warga binaan, tetapi diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.

Warga Binaan Belajar dari Memberi Pakan hingga Merawat Ternak

Program tersebut juga memberikan ruang kepada warga binaan untuk terlibat langsung dalam proses pemeliharaan.

Dalam pelaksanaannya, Karutan Kendari ditugaskan sebagai penanggung jawab kegiatan peternakan dengan melibatkan warga binaan dalam berbagai aktivitas, termasuk pemeliharaan dan pemberian pakan.

Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembinaan.

Sebab, warga binaan tidak hanya diberikan aktivitas untuk mengisi waktu, tetapi juga mendapatkan pengalaman kerja yang menuntut kedisiplinan, tanggung jawab dan keterampilan.

Dari aktivitas sederhana seperti memberi pakan dan merawat ternak, warga binaan diperkenalkan pada proses kerja yang membutuhkan konsistensi dan ketelitian.

Konsep inilah yang menjadi salah satu roh dari pembinaan kemandirian: mempersiapkan warga binaan agar memiliki kemampuan produktif sebelum kembali ke tengah masyarakat.

Ketahanan Pangan Dibangun dari Dalam

Pengembangan peternakan ayam tersebut melengkapi sejumlah program produktif lainnya yang dikembangkan di lingkungan pemasyarakatan Sulawesi Tenggara, seperti perkebunan, tanaman hidroponik, budidaya cabai hingga usaha pengolahan makanan.

Sementara itu, di Lapas Kelas IIA Kendari juga dikembangkan Roti Berkah Ibu, yang melibatkan warga binaan dalam kegiatan produksi roti sebagai bagian dari pembinaan kemandirian dan pengembangan UMKM.

Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa pembinaan warga binaan mulai diarahkan pada pendekatan yang lebih luas, yakni pembentukan keterampilan sekaligus penciptaan kegiatan ekonomi produktif.

Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Sulawesi Tenggara, Sulardi, Bc.I.P., S.H., M.H., dalam berbagai kesempatan terus mendorong agar program pembinaan tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar memberikan manfaat dan keterampilan bagi warga binaan.

Pada saat yang sama, pengawasan terhadap keamanan dan ketertiban tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan tugas pemasyarakatan.

Dengan demikian, pendekatan pembinaan dan pengamanan berjalan beriringan. Di satu sisi, potensi gangguan keamanan harus terus dicegah melalui pengawasan dan deteksi dini. Di sisi lain, warga binaan diberikan ruang untuk bekerja, belajar dan menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Dari Pembinaan Menuju Kemandirian

Peternakan ayam di LPKA Kendari menjadi gambaran bahwa proses pemasyarakatan dapat menghasilkan lebih dari sekadar aktivitas di balik tembok.

Ada keterampilan yang dibangun, ada tanggung jawab yang ditanamkan dan ada produktivitas yang mulai dikembangkan.

Jika dikelola secara berkelanjutan, program tersebut bahkan berpotensi menjadi model pembinaan yang memberikan manfaat ganda: membekali warga binaan dengan keterampilan sekaligus mendukung kebutuhan pangan bagi unit-unit pemasyarakatan.

Semangatnya sederhana: warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dipersiapkan untuk memiliki kemampuan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat.

Dari pembinaan, menuju kemandirian. Dari dalam Lapas, ikut membangun ketahanan pangan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini