SAKSARAPOST.COM, KENDARI — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendari terus memperkuat program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui kegiatan produktif dan bernilai ekonomi. Salah satu program yang dijalankan ialah pelatihan sekaligus praktik pembuatan roti yang melibatkan warga binaan secara langsung dalam seluruh tahapan produksi.
Program tersebut telah berjalan sejak 2023. Melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya mempelajari keterampilan pengolahan pangan, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menghasilkan, menjaga kualitas, mengemas, hingga memasarkan produk.
Dalam prosesnya, warga binaan dilibatkan mulai dari penyiapan bahan, pembuatan dan pengolahan adonan, pembentukan roti, pemanggangan, hingga pengemasan. Setiap tahapan dilaksanakan dengan menekankan pentingnya ketelitian, kedisiplinan, kebersihan, serta tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.
Roti yang diproduksi tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas pembinaan, tetapi juga dipasarkan dan dijual. Dengan demikian, warga binaan mendapatkan pemahaman mengenai proses sederhana dalam menjalankan usaha, termasuk bagaimana menghasilkan produk yang memiliki kualitas, daya tarik, dan nilai jual.
Kepala Lapas Kelas IIA Kendari, Mukhtar, Bc. IP., S.Ag., M.H., mengatakan bahwa pembinaan kemandirian merupakan bagian dari upaya mempersiapkan warga binaan agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.
“Pembinaan kemandirian ini merupakan bagian dari upaya kami untuk memberikan keterampilan yang dapat bermanfaat bagi warga binaan. Melalui kegiatan pembuatan roti, mereka tidak hanya belajar proses produksi, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam menghasilkan dan memasarkan produk,” ujar Mukhtar.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh selama mengikuti kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri dan produktif.
“Kami berharap keterampilan yang diperoleh selama mengikuti kegiatan ini dapat menjadi bekal bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat, sehingga mereka memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk menambah penghasilan,” lanjutnya.
Senada dengan itu, Kepala Subseksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja, Atmaja, S.H., menjelaskan bahwa kegiatan pembuatan roti memberikan pengalaman praktis kepada warga binaan dalam memahami proses produksi secara menyeluruh.
“Bagi warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut, pembuatan roti menjadi pengalaman baru yang memberikan kesempatan untuk mempelajari keterampilan secara langsung. Selain menjalankan aktivitas yang produktif, mereka juga dapat melihat secara langsung proses sebuah produk dibuat hingga siap dipasarkan,” jelas Atmaja.
Salah seorang warga binaan peserta kegiatan, Abustang, mengaku memperoleh pengalaman baru setelah mengikuti program tersebut. Sebelumnya, ia belum pernah membuat roti dan tidak memahami proses pembuatannya.
“Setelah ikut kegiatan ini, saya diajarkan mulai dari menyiapkan bahan, membuat adonan, membentuk, memanggang, sampai mengemas. Sekarang saya sudah mulai memahami prosesnya dan senang mendapatkan pengalaman baru,” ungkap Abustang.
Menurutnya, pengalaman memproduksi sekaligus memasarkan roti memberikan pemahaman bahwa suatu keterampilan dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang bernilai ekonomi.
“Apalagi roti yang kami buat juga dijual, jadi kami bisa belajar membuat sesuatu yang memiliki nilai. Mudah-mudahan setelah kembali ke masyarakat, keterampilan ini bisa saya manfaatkan untuk menambah penghasilan,” tambahnya.
Kegiatan pembuatan roti menjadi salah satu bentuk pembinaan yang memberikan pengalaman langsung kepada warga binaan. Selain menguasai teknik produksi, mereka dibiasakan bekerja secara teratur, menjaga mutu produk, serta bertanggung jawab terhadap setiap pekerjaan yang dilakukan.
Melalui pelaksanaan program pembinaan kemandirian secara berkelanjutan, Lapas Kelas IIA Kendari berupaya mengisi masa pembinaan dengan kegiatan yang bermanfaat. Keterampilan pembuatan roti dan pengalaman memasarkan hasil produksi diharapkan dapat menjadi bekal yang terus dikembangkan oleh warga binaan setelah kembali ke tengah masyarakat.






